Udang Goa

mata hati asliOleh: Ny. SM. Darmastuti – Yogyakarta

Dulu, ketika masih kuliah dan bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), beberapa kali saya ikut menelusuri goa yang ada di seputar Yogyakarta. Suatu hari pernah kelompok saya menemukan udang goa yang memiliki ‘sungut’ panjang, tetapi tidak memiliki mata. Binatang itu selamanya hidup di sungai bawah tanah di kegelapan goa, dan sungut merupakan antenna baginya yang lebih penting daripada mata yang tidak bisa dipakai menembus kegelapan. Pelatih Mapala berceritera panjang lebar, betapa Tuhan begitu arifnya.

Sang Maha Tahu itu telah melengkapi setiap makhluk dengan ‘piranti’ masing-masing yang pas agar bisa ‘survive’ (bertahan hidup). Saya sadar, ternyata ‘piwulang’ (pelajaran hidup) dariNya diberikan pada manusia dimanapun, bahkan ketika dia menelusuri goa sekalipun. Udang goa tidak perlu diberi mata karena dia hidup di kegelapan, sementara kucing yang mencari tikus ketika malam tiba, dikaruniai Tuhan mata yang tajam dan berkilau.

Tuhan memang memberi dan membagi dengan adilnya apa yang dibutuhkan makhluknya. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Jalaludin Rumi dalam salah satu renungan sufinya:

Di dalam bumi terdapat jasad-jasad kecil
yang senantiasa hidup dalam kegelapan.
Dia tidak dikaruniai mata dan telinga
karena habitatnya tidak memerlukannya.
Kalau tidak membutuhkannya,
kenapa harus diberi mata?
Tuhan tidak menganugerahinya mata
Bukan karena Tuhan kehabisan stok,
bukan juga karena Beliau pilih kasih,
tetapi karena Tuhan menyesuaikan
apa yang dibutuhkan makhlukNya.

Kebutuhan kita yang hakiki adalah hidup tenteram dan bahagia ‘dunia wal akherat.’ Tuhan memberi kita masing-masing alat yang pas untuk mencapai ketenteraman itu. Kalau saja semua manusia mau keluar dari kegelapan, meninggalkan kelamnya suasana, pastilah Tuhan akan lebih melengkapinya lagi dengan mata hati yang pantas dipakai melihat cerahnya alam dan tenteramnya perasaan. Sayang sekali, kadangkala manusia lebih suka ‘ngopeni’ (memelihara) kesedihan dan ketidaknyamanan, serta lebih kerasan berlama-lama tersiksa dalam kegalauan hati yang seakan tak berujung. Mereka itu seperti udang goa yang selamanya tinggal di kegelapan ….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s