Rumput Hijau Di Tanah Datar

rumput hijauSeorang taruna yang sedang mengikuti latihan terjun payung, pada suatu hari mengalami musibah. Ketika dia diterjunkan ke hutan pada malam hari, payungnya tidak mengembang. Dia terjun bebas dengan payungnya yang masih kuncup. Tangannya menggapai-gapai mencoba meraih apa saja dalam gelap ketika badannya mulai menatapi pepohonan yang tumbuh miring di jurang. Tanpa bisa melihat apapun dalam gelap, akhirnya dia berhasil meraih cabang pohon. Dengan sekuat tenaga dia berusaha memegang erat-erat dan menggelantung antara langit dan bumi. Dalam keadaan bertahan seperti itu, taruna itu berdoa:

“Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk bertahan sampai pagi, dan beri aku kesempatan tetap hidup untuk menyelesaikan semua tugas yang Paduka bebankan padaKu. Aku berjanji ya Gusti, kalau aku tetap hidup, aku akan keluar dari pendidikan militer dan aku akan menjadi rohaniwan saja.”

Tak dinyana-nyana, Tuhan membisiki anak muda itu: “Anakku, menjadi seorang rohaniwan sama beratnya seperti seorang prajurit. Dia harus patuh dan pasrah pada atasannya ketika dia menemui jalan buntu. Kamu sanggup?”
Taruna itu menangis: “Sanggup Gusti, saat inipun aku pasrah padaMu karena Padukalah atasan Sejatiku.”

“Anakku, kalau kau pasrah, lepaskan peganganmu dari cabang pohon itu, dan biarkan badanmu jatuh ke bawah.” Demikian Tuhan berbisik padanya.

Taruna itu berkilah: “Tapi Gusti, mengapa harus kulepaskan peganganku yang bisa menyelamatkanku kalau sebentar lagi matahari bersinar, dan aku bisa melihat ke bawah untuk menyelamatkan diri? Cukup beri aku kekuatan, dan aku bisa menyelesaikan segalanya sendiri, please !” Demikian taruna muda itu mencoba menawar solusi yang diberikan Tuhan.

Tuhanpun mengabulkan. Dia diberi kekuatan untuk tetap bergelantung pada cabang sampai keesokan harinya. Semalaman dia tidak tidur, badannya amat lelah. Pagi hari ketika matahari bersinar, ketika segala sesuatu di hutan yang berjurang-jurang itu tampak nyata, dia terperanjat sekaligus menyesal … ternyata dia hanya berjarak 20 cm, atau kira-kira sejengkal, dari rerumputan hijau empuk di tanah datar dibawahnya!

Nalar manusia memang ‘ceriwis.’ Dengan kemampuan pikir yang logis, manusia sering terjebak pada perhitungan matematis yang tidak benar. Bagi Tuhan hitungan satu ditambah satu tidak selalu dua. Bisa seribu, bisa sejuta, bisa ‘un-limited.’ Sementara nalar manusia tidak pernah bisa menerima itu. Sesungguhnya, nalar manusia yang menep akan bisa memberi arahan nafsunya untuk terciptanya rasa yang kukuh, tidak tergoncang atas keadaan apapun yang dia alami. Sayangnya, rasa yang datar tanpa fluktuasi perasaan seperti itu bagi orang awam sering disalahtafsirkan sebagai ‘apatisme.’

Apathetic atau apatisme yang berarti hilangnya antusiasme, tidak sama dengan pasrah. Pasrah bukan berarti lumpuh antusias dan aktivitas, bukan berarti acuh-tak acuh. Pasrah adalah usaha yang tidak disertai dorongan nafsu. Ketika apa yang dia usahakan tidak tercapai, tidak akan menyebabkan frustrasi berkepanjangan. Pasrah adalah kemampuan menyeimbangkan diri antara usaha yang terus menerus dilakukan dan kesadaran bahwa apapun yang dilakukan manusia, tangan Tuhanlah yang akan menentukan. Hasil akhir apapun yang akan terjadi atas upaya yang dilakukan, terjadi karena Tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya.

Ada tips kecil yang saya peroleh dari bapak mertua. Nasehat beliau:
“Serahkan pada Tuhan masalah yang tidak bisa kau atasi, maka Tuhan akan selesaikan masalahmu dengan sempurna. Sebagai ‘barter’ atas kepasarahanmu ini, selesaikan tugas Tuhan yang dipercayakan padamu sebaik-baiknya sekecil apapun peranmu dalam kehidupan.”

Masalah yang sering timbul adalah ketika mulut kita berkata pasrah, logika kita justru masih saja mendapat ruang untuk berkiprah. Kita masih terus menerus mempertanyakan kapan masalah kita selesai, bagaimana penyelesaiannya, atau bahkan lebih parah lagi: ‘dapat terselesaikankah?’ Persis seperti taruna yang bergelayut di cabang pohon dan berkata pasrah tetapi masih juga mendikte Tuhan dan menawar ….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s