Prihatin

42-19654310Oleh: Ny. SM. Darmastuti – Yogyakarta

Untuk merubah serigala menjadi anjing penurut hanya perlu empat generasi. Kalau rata-rata usia serigala 12 tahun, dan usia subur mereka tidak lebih dari 8 tahun, maka hanya diperlukan tidak lebih 40 tahunan untuk 4 generasi. Demikian kini kita kenal jenis anjing Herder atau German Shepherd yang setia, turunan serigala liar yang konon ceriteranya agak pemalu tapi suka main keroyok kalau mencari mangsa.

Berapa generasi dibutuhkan untuk merubah kaum bar-bar menjadi aristokrat Inggris yang sangat berbudaya? Merubah orang untuk memiliki perilaku halus, perwira, gentle, umumnya dibutuhkan waktu lebih lama. Memang, kita semua mengakui, lebih sedikit waktu diperlukan untuk merusak budaya orang daripada membangunnya.

Merubah watak, perlu waktu juga selain kemauan kuat dari orang yang kepingin berubah. Tapi lebih dari semua itu, masih diperlukan tangan Tuhan untuk membuka hati orang yang akan kita ajak berubah. Tanpa perkenanNya, semua usaha yang kita lakukan untuk merubah watak orang, tidak akan pernah kejadian.

Seorang teman yang anaknya bekerja sebagai pramugari maskapai penerbangan asing berceritera, dalam setiap penerbangan dari dan ke Indonesia dan diketahui ada penumpang berkebangsaan Indonesia, announcer dalam pesawat diwajibkan mengingatkan para penumpang – minim tiga kali – agar mau mematikan handphone ketika kapal terbang akan take-off. Sementara hal serupa hanya perlu diucapkan sekali bila dalam manifest penerbangan tidak tercantum penumpang berkebangsaan Indonesia. Saya tersenyum pahit, prihatin, karena ceritera itu sekaligus menggambarkan stigma bangsa Indonesia di mata Internasional: betapa sulitnya bangsa ini mematuhi peraturan dan menyesuaikan perilakunya sesuai prosedur yang diwajibkan. Tidak salah rasanya kalau ada orang mengatakan bahwa perilaku bangsa kita belum cukup matang untuk menyelaraskan teknologi canggih dalam kehidupan mereka. (Mungkin bisa kita saksikan juga bagaimana dering handphone di saat rapat sedang berlangsung?).

Sekali waktu, ketika saya bertemu dengan anak teman saya yang pramugari itu, dia juga menceriterakan pengalamannya. Dalam satu penerbangan, dia pernah dengan halus memperingatkan anggota DPR RI (yang masih ber-sms an) untuk mematikan HP-nya karena kapal terbang sudah berjalan di runway dan siap take-off. Apa yang terjadi? dia dibentak: “Siapa sih lu?” persis iklan rokok di TV.

Daftar ketidakdisiplinan semacam itu akan menjadi panjang sekali kalau kita mau lebih mencermati lagi betapa banyaknya tanah pemerintah dijarah pemukim liar, depan pagar rumah dipakai PKL tanpa ijin, anak-anak muda menerobos lampu merah, para hackers merampok dana dari credit card orang, dst,dst.

Apakah ‘prihatin’ saja cukup untuk merobah perilaku saudara-saudara kita? Tentu tidak. Bukankah ada pepatah mengatakan: “Kejahatan di dunia ini bertambah bukan karena orang jahat bertambah banyak, tetapi karena semakin banyak orang baik-baik tidak berbuat apa-apa ketika melihat kejahatan.”

Nah, terus gimana coba?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s