Anganku, Nyata Jalanku

jalankuOleh: Ny. SM. Darmastuti – Jogjakarta

“Tut, selama tigapuluh tahun aku bekerja sebagai pegawai negeri, impian untuk memiliki mobil besar yang dapat memuat anak cucuku ternyata belum dapat kesampaian juga.” Demikian seorang teman mengeluhkan nasibnya. “Tapi, tak pikir-pikir kemudian ternyata aku justru mendapat kemudahan karena sebenarnya aku dapat naik mobil besar kapan saja, tanpa harus merawat dan membayar pajak dan gaji sopir … aku dapat naik bus lewat busway yang bebas hambatan, dan tidak hanya anak cucuku yang dapat terangkut, semua orang yang ingin ikutpun dapat dengan mudah masuk dan turut menikmatinya.” Katanya lagi, kali ini dengan nada canda yang legawa. Saya jadi teringat dongeng tiga buah pohon dari radio Sonora:
Tiga buah pohon tumbuh bersama-sama, dan mereka saling membayangkan apa yang akan mereka persembahkan bagi kehidupan. Pohon pertama berkata, “Aku akan tumbuh menjadi pohon yang kuat, dan kelak bila kayuku cukup tua, aku ingin ditebang dan kayuku dibuat tempat tidur bagi raja.” Demikian katanya sambil membayangkan betapa bahagianya dia, ketika dapat mempersembahkan apa yang terbaik bagi kehidupan manusia. Pohon kedua, yang juga mulai tumbuh kuat dan lurus menyahut: “Aku ingin kayuku dibuat menjadi kapal besar yang dapat membawa raja berlayar.” Pohon ketiga yang agak pendiam akhirnya ikut ambil bagian menyatakan keinginannya: “Aku ingin tumbuh tinggi, setinggi langit sehingga orang percaya bahwa akulah pohon tertinggi yang paling dekat dengan Tuhan.”
Bertahun-tahun kemudian ketika pohon-pohon itu siap ditebang, datanglah para tukang kayu yang dengan kapak tajamnya mulai menebang mereka satu persatu seiring waktu dan kebutuhan saat itu. Pohon pertama ditebang lebih dahulu, tetapi sungguh sangat mengecewakan, alih-alih dibuat tempat tidur dengan serutan yang halus, dia cuma dibuat tempat makanan ternak yang diisi jerami kering. Demikian juga pohon kedua, bukan kapal besar yang dibuat dari kayunya, melainkan perahu nelayan yang amat sederhana.

Pada suatu hari, datanglah suami isteri yang kehabisan tempat penginapan padahal sang isteri telah siap melahirkan bayinya. Suami isteri itu akhirnya menginap di kandang ternak, dan ketika bayinya lahir, bayi itu ditidurkan di tempat pakan ternak beralaskan jerami. Pohon pertama akhirnya menyadari bahwa dirinya telah menjadi tempat tidur bagi ‘Raja-di-Raja’ karena bayi Yesus ditidurkan disitu.
Beberapa tahun kemudian sekelompok nelayan memakai perahu dari kayu pohon kedua. Tiba-tiba badai besar menyerang sedemikian rupa sampai-sampai perahu oleng dan hampir pasrah tidak kuat menahan ombak yang mengguncang. Untunglah, salah seorang nelayan akhirnya berdiri dan berkata kepada lautan dengan wibawanya: “Tenanglah! …” dan ombakpun berhenti ber-ulah. Air laut menjadi tenang kembali. Pohon keduapun sadar, ternyata seorang ‘Raja-di-Raja’ telah memakai perahu yang dibuat dari kayunya, karena saat itu Yesuslah yang menenangkan badai.
Waktu terus berlalu, suatu hari seorang lelaki berjalan terhuyung-huyung memanggul kayu palang yang akan dipakai menyalibkan dirinya. Ketika kayu salib itu telah didirikan dan lelaki itu disalibkan sebagai penebusan dosa manusia, sadarlah pohon ketiga bahwa dia benar-benar telah menjadi kayu tertinggi yang paling dekat dengan Tuhan ….

Kehidupan manusia seringkali seperti pohon-pohon dalam ceritera itu. Kita cenderung cepat kecewa karena apa yang kita inginkan tidak terlaksana seperti bayangan kita. Kerapkali kita tidak menyadari bahwa apa yang ada ditangan kita sekarang sebenarnya adalah ‘hasil dari apa yang kita inginkan’ dengan wujud yang ‘sesuai dengan apa yang kita butuhkan,’ dan bukan sebaliknya. Kekecewaan akan menghilangkan rasa syukur, kekecewaan akan membutakan mata hati untuk melihat kenyataan bahwa Allah, Sang Guru Sejati telah menata seluruh kehidupan kita dengan segala kebijaksanaanNya …. Kita tinggal melakoninya dengan penuh kesabaran dan kepercayaan yang tak tergoyahkan, bahwa sebenarnya saat ini kita telah menjadi apa yang seharusnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s