Gerbang Cinta Tanpa Batas

gerbang-cintaSeorang lelaki yang tengah berkuda diikuti anjing setianya, tiba-tiba tersambar petir. Ketiganya mati seketika, tetapi mereka tidak menyadari, dan mengira masih melanjutkan perjalanannya. Kematian memang sering tidak dirasakan segera. Perjalanan lelaki dan dua binatang kesayangannya itu ternyata sangat jauh, naik turun bukit, kadang kehujanan kadang kepanasan karena sinar matahari terasa menyengat. Mereka bertiga sangat kehausan dan hampir putus asa. Tiba-tiba mereka sampai di sebuah tempat indah yang pintu gerbangnya terbuat dari emas dan temboknya dari pualam. Dibelakang gerbang indah yang terbuka itu ada jalan yang tampak mulus berkilauan karena con-blocknya juga dari emas. Tepat di tengah-tengah jalan ada sebuah kolam dengan pancuran yang airnya sebening kristal. Ada penjaga gerbang yang tampan dan gagah. Lelaki dengan kuda dan anjingnya itu mendekat dan mencoba berbicara dengannya:
“Selamat siang Pak,” kata lelaki berkuda itu.
“Selamat siang juga Tuan,” sahut penjaga gerbang sambil tersenyum.
“Numpang tanya, apa nama tempat yang indah ini?” Tanya lelaki berkuda itu sambil terheran-heran.
“Ini surga Tuan, tempat kesenangan dan kenyamanan.” Jawab penjaga gerbang ramah.
“Wah, senang sekali ternyata saya ada di surga. Saya haus sekali, apa saya boleh minum dari pancuran itu Pak?” pinta lelaki kehausan itu.
“Silahkan minum sepuasnya Tuan.”
“Kuda dan anjing saya juga kehausan, mereka juga butuh minum.”
“Maaf, binatang dilarang minum di sini Tuan.” Kata penjaga itu lagi.
Lelaki berkuda itu sangat kecewa, dan membatalkan hasratnya. Dia segera meninggalkan tempat itu melanjutkan perjalanannya diikuti dua hewan piaraannya yang setia. Jalanan semakin sulit, matahari semakin terik dan mereka bertiga semakin kehausan. Akhirnya mereka tiba disatu bangunan yang ada gerbangnya juga. Pintu gerbang tampak kusam, tertutup, dan tembok yang mengitari bangunan tampak tua dan berlumut. Ketika lelaki itu memberanikan diri membuka pintu, tampak dihadapannya jalan kotor yang kelihatan jarang dilalui. Dikiri kanan jalan berbaris pohon perindang. Seorang lelaki tua bertopi tampak ketiduran di bawah salah satu pohon tersebut. Dengan pelan-pelan, lelaki berkuda itu turun dari kudanya dan mendekatinya. Dia memberanikan diri membangunkan dan bertanya:
“Pak, kuda saya, anjing saya dan saya sendiri sangat kehausan, apakah ada air di sekitar sini?”
Lelaki tua itu bangun, membuka topinya dan menyahut dengan amat bersahabat:
“Dibalik bebatuan besar itu ada mata air nak, silahkan minum.”
Lelaki dan dua binatang kesayangannya itu segera memuaskan rasa dahaganya, minum sebanyak-banyaknya. Setelah merasa segar lelaki itu kembali mendekati pak Tua itu untuk mengucapkan terimakasih, dan bertanya:
“Tempat ini namanya apa Pak?”
“Ini surga anakku, tujuan akhir perjalanan makhluk Tuhan.” Jawab pak Tua itu dengan wajah damai.
“Tidak mungkin, karena jauh di bawah sana tadi ada tempat indah yang penjaganya mengatakan bahwa itu surga. Bagaimana mungkin ada dua surga?”
“Anakku, tempat yang kau temui tadi namanya ‘neraka’ karena disana banyak tinggal manusia-manusia yang tega meninggalkan sahabat-sahabatnya mati kehausan dan kelaparan. Disana banyak pejalan yang berhenti karena terpukau keindahan dan kenyamanan sehingga mereka lupa akan kepentingan sahabat dan teman-teman setianya dan lupa akan tujuan utama akhir perjalannya…”
Kita mungkin ingat Sabda Sang Guru Sejati:

Ketahuilah bahwa anugerah terbesar adalah bila engkau dapat merasakan kenikmatan Tuhan, yaitu kemuliaan abadi atau ketenteraman abadi yang berada di Istana Tuhan yang umumnya disebut sebagai surga … (Sasangka Jati, Jalan Rahayu, Keterangan Luhur, alinea terakhir).
JW: Wruhanira mungguh gedhe-gedhening ganjaran, iku yen sira bisa ngrasaake Kanikmataning Pangeran, yaiku kamulyan langgeng utawa katentreman langgeng kang dumunung aneng Kadhatoning Pangeran kang lumrahe sinebut swarga …. (Sasangka Jati, Dalan Rahayu, Katrangane Luhur, alinea terakhir).

Bagi kita warga Pangestu surga memang bukan tempat indah yang penuh dengan kesenangan dan kenyamanan duniawi, melainkan ‘suasana damai yang menyejukkan jiwa.’ Surga adalah kepuasan rohani tanpa pemberontakan dan rasa datar yang bukan apathy. Surga adalah samodera cinta tak bertepi sebagaimana jawaban saudara Kemayan menanggapi pertanyaan bapak Pangrasa ‘bagaimana menemukan jalan yang lebih dekat ke Padepokan Sang Guru Sejati’ (Bowo Raos Ing Salebeting Raos, Dasa Patanya 10, Poin 2)

Jalan yang lebih dekat untuk sampai ke Istana Sang Guru Sejati adalah dengan membangkitkan rasa cinta kepada sesama hidup disertai tapabrata sekadarnya.
JW:Margi ingkang langkung celak dumugi ing Kedatonipun Sang Guru Sejati inggih menika kanthi mbangun raos tresna datheng sesamining gesang, linambaran tapabrata sakadaripun.

Suasana surgawi ternyata begitu dekat dengan orang-orang yang kaya akan ‘cinta nir pamrih’ karena mereka telah menemukan gerbang cinta tanpa batas, menuju samodera cinta tak bertepi ….

Iklan

2 thoughts on “Gerbang Cinta Tanpa Batas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s